Jakarta, 4 Mei 2026 – Deforestasi yang terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia dinilai menjadi ancaman serius bagi ketahanan genetik satwa lokal. Hilangnya habitat alami membuat populasi hewan semakin terfragmentasi dan rentan terhadap penurunan keanekaragaman genetik.
Para ahli menjelaskan bahwa ketika hutan menyusut, satwa kehilangan ruang hidup dan terpaksa hidup dalam kelompok kecil yang terisolasi. Kondisi ini menyebabkan perkawinan dalam kelompok terbatas yang dapat menurunkan variasi genetik serta meningkatkan risiko penyakit dan cacat genetik.
Selain itu, berkurangnya keanekaragaman genetik membuat satwa lebih sulit beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempercepat kepunahan spesies, terutama bagi satwa endemik yang memiliki habitat terbatas.
Deforestasi juga berdampak pada rantai ekosistem yang lebih luas. Ketika satu spesies terganggu, keseimbangan alam ikut terancam, yang pada akhirnya memengaruhi keberlangsungan berbagai jenis flora dan fauna lainnya.
Upaya konservasi dinilai menjadi langkah penting untuk mengatasi masalah ini. Perlindungan habitat, pembentukan koridor satwa, serta program penangkaran menjadi beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk menjaga keberagaman genetik.
Pemerintah dan berbagai pihak didorong untuk memperkuat kebijakan perlindungan hutan serta meningkatkan kesadaran masyarakat. Tanpa langkah nyata, deforestasi berpotensi menyebabkan hilangnya kekayaan hayati yang tidak tergantikan.
Isu ini menjadi pengingat bahwa menjaga hutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga tentang mempertahankan keberlanjutan kehidupan satwa dan keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.







